Ampuhnews.com Palembang – Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Sumatera Selatan (Sumsel) mengikuti kegiatan parade perempuan kebaya kain songket terbanyak di Care Free Day (CFD), Minggu (19/7/2026).
Kegiatan tersebut digelar oleh DPD Perempuan Indonesia Maju (PIM) Sumsel dengan tujuan untuk memecahkan Rekor Muri Dunia menjelang puncak perayaan hari kebaya nasional yang jatuh pada, 24 Juli mendatang.
Peserta dalam kegiatan tersebut tidak hanya perwakilan perempuan dari IPEMI Sumsel saja, tetapi juga diikuti oleh ribuan perempuan yang tergabung dalam organisasi wanita dilingkungan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), TNI, Polri dan Organisasi Masyarakat (Ormas) yang ada di Sumsel.
Turut hadir langsung Ketua Umum DPP PIM, Lana T Koentjoro, Ketua DPD PIM Sumsel, Hj Helen Ganefo SKeb MKes, Ketua TP PKK Provinsi Sumsel, Hj Febrita Lustia Herman Deru, Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Ren 044 PD II/Swj, Vera Khabib Mahfud dan Ketua TP PKK Kota Palembang, Hj Dewi Sastrani Ratu Dewa.
Selain itu juga dihadiri Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Sumsel, Dr H Apriyadi MSi dan Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Kota Palembang, Ir H Akhmad Bastari ST MT.
Wakil Ketua IPEMI Sumsel, Dra Yusmiyanti MM mengatakan bahwa pihaknya sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan yang digelar oleh PIM Sumsel, oleh karena itu hari ini menjadi peserta Parade perempuan kebaya kain songket.
“Kami bangga, hari ini bisa memakai busana kebaya kain songket bersama ribuan perempuan yang ada di Sumsel,” ucapnya.
Ia ungkapkan bahwa dalam kegiatan ini, bukan hanya sekedar memakai busana kebaya kain songket saja tetapi juga sebagai langkah nyata dalam menjaga dan melestarikan budaya bangsa Indonesia.
“Kita tahu ribuan perempuan yang mengikuti parade kebaya kain songket ini berasal dari daerah, suku, agama dan kalangan yang berbeda tetapi bisa menyatu untuk menjaga dan melestarikan budaya kita khususnya memakai busana kebaya kain songket,” ungkapnya Yusmiyanti.
Lanjut Yusmiyanti terangkan bahwa dalam parade kebaya kain songket yang dipakai oleh ribuan perempuan ini, tampil memukau dengan berbagai jenis dan motif.
“Terima kasih kepada PIM Sumsel yang telah menyelenggarakan kegiatan ini, karena melalui kegiatan parade kebaya kain songket ini, tidak hanya memecahkan Rekor MURI Dunia, tetapi menjadi simbol menjadi perekat kerukunan untuk mempertahankan predikat Sumsel zero konflik,” ucapnya.
Lebih lanjut dia sampaikan bahwa identitas kultural ini tidak hanya sekadar pakaian tradisional, tetapi juga simbol keanggunan yang harus dijaga agar tetap terjaga dan lestari.
“Kami kaum perempuan yang tergabung dalam IPEMI Sumsel, siap menggaungkan dan menduniakan kebaya kain songket khususnya ciri khas Sumsel,” tandasnya Yusmiyanti (Zul).
Dalam kegiatan ini, ia merasa bangga bisa mengikuti kegiatan ini, karena bisa bertanggung jawab untuk menjaga kebaya kain songket yang merupakan ciri khas Sumsel tetap hidup sehingga dikenal dan dicintai.
“Kami ucapkan terima kasih kepada Ketua DPD PIM Sumsel yang telah menginisiasi kegiatan hari ini sehingga bisa menyatukan kaum perempuan yang berasal dari berbagai kalangan untuk mencatatkan Rekor Muri Dunia memakai kebaya kain songket terbanyak,” ungkapnya Bunda Ami.
Lebih lanjut Bunda Ami sampaikan bahwa dengan adanya kegiatan ini, tidak hanya untuk melestarikan budaya tetapi juga mendukung ekosistem ekonomi dan kerajinan perempuan lokal.
“Mewakili perempuan dari ABRI-1 Sumsel, kami akan selalu mendukung adanya kegiatan-kegiatan seperti ini karena tidak hanya bisa melestarikan budaya bangsa tetapi juga dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar,” tutupnya Bunda Ami (Zul).






