Ampuhnews.com Palembang – Ketua Umum National Paralympic Committe Indonesia (NPCI) Sumatera Selatan (Sumsel), Rian Yohwari, angkat bicara terkait polemik atas kekecewaan Mila Purnamasari terhadap pesan singkat yang diduga dari Walikota Lubuk Linggau, H Rachmat Hidayat.
Mila Purnamasari merupakan atlet catur penyandang disabilitas peraih mendali dalam ajang Pekan Paralimpik Provinsi (Peparprov) Sumsel 2025 di Kabupaten Musi Banyuasin, yang mewakili Kota Lubuk Linggau.
Polemik tersebut berawal dari keluhan Mila Purnamasari atas kekecewaannya, hingga kini belum menerima bonus atas prestasi yang telah diraihnya. Keluhan tersebut viral di Media Sosial (medsos) setelah menyinggung ucapan yang diduga berasal dari Walikota Lubuk Linggau.
Ketua Umum NPCI Sumsel, Rian Yohwari mengatakan bahwa polemik permasalahan yang terjadi di Kota Lubuk Linggau diketahuinya setelah mendapatkan pesan di groub WhatsApp dari pengurus NPCI 17 Kabupaten Kota.
“Saya belum tahu pasti, persoalannya seperti apa, dan yang jelas hari ini, saya akan berangkat ke Lubuk Linggau untuk memastikan kondisi mental Mila Purnamasari terhadap permasalahan yang dihadapinya, karena beliau merupakan atlet catur nasional,” ujarnya.
Ia ungkapkan dalam hal ini, harus ada tindakan nyata dari pihaknya, karena apa yang disampaikan oleh Mila Purnamasari tersebut, juga sebagai suara hati perjuangan untuk mendapatkan bonus atas prestasinya.
Terkait dengan bonus tersebut, yang sempat saya lihat dari medsos Mila Purnamasari, Walikota Lubuk Linggau sempat membanding-bandingkan dengan daerah lain, bahwa ada yang lebih kecil menerima bonus dibandingkan dari Lubuk Linggau.
“Menurut saya inovasi itu harus lebih baik kedepannya, kalau dulunya menerima Rp 15 juta, untuk kebaikan minimal bonus yang diterima atlet berprestasi saat ini sama. Yang pasti kami NPCI dari 17 Kabupaten Kota akan menyikapi hal ini,” ungkapnya Rian.
Lanjut Rian menghimbau kepada seluruh atlet penyandang disabilitas yang ada di Lubuk Linggau, tetap harus bersabar diri dalam melihat kemungkinan yang terjadi. Perjuangan mereka bukan hanya untuk atlet Lubuk Linggau, tetapi menjadi perjuangan atlet se-Sumsel dan bahkan se-Indonesia.
“Kepada Pemerintah khususnya Kota Lubuk Linggau, bahwa pemangku kebijakan merupakan tempat menampung aspirasi, oleh karena itu tampunglah aspirasi tersebut. Hal ini menjadi tugasnya bagaimana menyelesaikan persoalan ini dan jangan berikan jawaban dengan bahasa-bahasa yang kurang pas, apalagi dengan kami sebagai penyandang disabilitas,” pintanya.
Lebih lanjut dia terangkan bahwa atlet penyandang disabilitas, secara pendidikan tidak sehebat dari rekan-rekan atlet dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), artinya hal-hal yang kecil kemungkinan akan menjadi besar
“Saya berharap kepada Pemkot Lubuk Linggau, janganlah merapikan suatu hal yang hanya dalam bungkus, tetapi cobalah untuk membenahi isinya,” pesan Rian.
Rian sampaikan, beberapa kunci utama suksesnya seorang atlet dalam meraih prestasi diantaranya kekuatan mental (psikologis) dan kebugaran fisik.
“Permasalahan yang ada saat ini akan berdampak dan berpengaruh terhadap kekuatan mental dan kebugaran fisik atlet. Bagaimana atlet akan mempersiapkan diri untuk latihan sementara mereka dihadapkan dengan permasalahan ini, sedangkan Lubuk Linggau akan menjadi tuan rumah Peparprov dan Porprov Sumsel mendatang,” bebernya.
Terkait dengan bonus atlet disabilitas Kabupaten Lahat, dia sampaikan bahwa bonusnya tidak masuk dalam Anggaran Belanja Tambahan (ABT), karena terlambat, sehingga seluruh ABT ditiadakan termasuk atlet NPCI dan KONI.
“Setelah kami berjuang, akhirnya ada pergeseran anggaran, oleh karena itu kami berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Lahat, walaupun Tahun ini bonus atlet hanya cair separuhnya, tetap masih ada solusinya,” tandasnya Rian (Zul)


