Ampuhnews.com Palembang – Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (PEKAT IB) Sumatera Selatan (Sumsel), Ir Suparman Roman Sambangi Polrestabes Kota Palembang, Sabtu (22/3/2025).
Hal ini dilakukannya bersama anggota DPW PEKAT IB Sumsel untuk melaporkan Willie Salim, terkait beredarnya konten masak besar rendang sebanyak 200 Kilogram daging sapi di Benteng Kuto Besak (BKB), Selasa (18/3/2025) beberapa hari yang lalu untuk dibagikan kepada masyarakat setempat.
Dalam konten tersebut daging rendang sebanyak 200 Kilogram raib dalam hitungan detik ketika ditinggalnya ke toilet sebentar. Hal ini menuai kontra karena merusak nama masyarakat Kota Palembang yang seolah-olah tidak tertib dan tanpa
Ketua DPW PEKAT IB Sumsel, Suparman Roman mengatakan bahwa dalam pertemuannya dengan penyidik dari Pidana Umum (Pidum), ada beberapa pandangan dan arahannya butuh 2 (dua) alat bukti untuk memenuhi unsur pidananya terhadap Willie Salim dari konten yang dibuatnya.
“Dalam pertemuan tersebut, kita sampaikan argumen-argumen berupa speak up, video-video dan yang jelas mereka minta bukti-bukti yang lebih konkret,” katanya.
Ia sampaikan bahwa Senin (24/3/2025) pihaknya akan kembali ke Polrestabes Palembang dan mungkin bersama kawan-kawan lain yang sudah merasa terganggu dengan adanya opini-opini yang sudah berkembang liar terkait dengan konten tersebut.
“Saat ini yang menerima dampak negatifnya adalah masyarakat dan Pemerintah Kota Palembang. Dalam hal ini menjadi pencitraan buruk bagi Kota Palembang sebagai daerah yang tidak aman, masyarakat yang tidak beradab, rakus dan suka mencuri, apalagi dibanding-bandingkan dengan masyarakat Papua,” ujarnya Suparman.
Lanjut Suparman ungkapkan bahwa seakan-akan hal ini, menimbulkan sebuah konotasi negatif karena selama masyarakat Kota palembang lebih beradab, beretika dan budaya lebih halus, kalah dengan masyarakat Papua baik secara tertib maupun disiplin.
“Hal ini menyakitkan masyarakat Papua, kenapa mereka dibanding-bandingkan dalam kasus ini, begitupun juga kita masyarakat Kota Palembang,” ungkapnya.
Terkait dengan Laporan hari ini, bukan tidak diterima, tetapi mereka mempersilahkan untuk melengkapi bukti, minimal 2 alat bukti, agar kasus ini masuk dalam ranah Pidana.
“Mengenai alat bukti, akan kita kumpulkan, karena kita ada video-video pada saat terjadinya peristiwa tersebut begitupun kesaksian,” ujarnya Suparman.
Menurutnya yang menyatakan daging rendang tersebut hilang, pihaknya merasa hal tersebut tidak hilang, karena konten tersebut ada indikasi sebuah rekayasa setting, supaya terlihat betul-betul terjadi dan betul adanya peristiwa yang tidak terduga sama sekali oleh timnya Willie Salim.
“Pada saat masyarakat mengambil daging rendang, menurut kami tentunya masyarakat tidak berani dan berinisiatif sendiri untuk berebut mengambil daging rendang itu tanpa adanya komando dan mempersilahkan, karena disana ada pengamanan dari aparat Kepolisian,” ucapnya
Secara logika daging rendang tersebut dimasak lebih kurang pada Pukul 19.00 WIB. Memasak rendang paling tidak membutuhkan waktu 4 sampai 5 jam.
“Jadi Kurun waktu dari Pukul 19.00 WIB, rendang tersebut bisa masak sampai dengan Pukul 24.00 WIB dan juga tentunya menyita energi. Dalam hal ini kita patut menduga konten tersebut ada sebuah rekayasa dan masyarakat seolah berebut tanpa terkendali dan terjadinya kegaduhan,” terangnya Suparman.
Informasi keterangan Willie Salim dalam konten tersebut tidak Valid, karena berdasarkan keterangannya meninggalkan lokasi berbeda-beda, baik waktu maupun alasannya. “Untuk waktu sajq ada 5 menit dan ada 15 menit. Sedangkan alasannya Willie Salim bilang ada lagi ke toilet dan ada juga lagi makan di mobil,” bebernnya.
Pihaknya juga mempertanyakan kegiatan yang dibuat oleh Willie Salin bersama timnya di BKB, ada izin resmi atau tidak, karena kalau tidak ada izin dan tanpa kendali keamanan akan ada hukum sebab dan akibat.
“Jika kegiatan tersebut mempunyai izin, pasti mempunyai standar pengamanan dan paling tidak ada pagar pembatas, sebagai mana pada kita menonton konser yang digelar di BKB yang melibatkan masyarakat banyak,” jelasnya Suparman.
Apalagi kegiatan yang dibuat oleh willie Salim bersama timnya acara masak-masak, ada api yang membakar tungku dan wajan atau kuali besar. Kalau terjadi kegaduhan bukan tidak mungkin terjadinya dorong mendorong dan akibatnya bisa patal.
“Dari segi pengamanan kalau kita lihat tidak layak dengan adanya acara tersebut yang melibatkan masyarakat banyak, karena hanya ada beberapa aparat kepolisian, sedangkan masyarakatnya mencapai ratusan dan bahkan ribuan,” katanya.
Terkait dengan adanya pernyataan permintaan maaf oleh Walikota Palembang, menurut Suparman Walikota bukan merasa bersalah, tetapi hal ini menjadi sebuah cermin yang mewakili masyarakat Kota Palembang yang sangat permisif, ramah tamah dan tidak melihat siapa yang salah dan benar.
“Walikota meminta maaf tersebut, untuk menghormati Willie Salim sebagai tamu dari masyarakat Kota Palembang. Untuk membuktikan salah atau benar kasus konten ini harus melalui proses hukum,” ungkapnya Suparman.
Terkait dengan pengaruh sektor Pariwisata di Kota Palembang, yang jelas pasti ada, karena sudah ada stigma negatif bahwa masyarakat Kota Palembang tidak beradab, hobi mencuri, mengambil kesempatan dalam kesempitan dan tidak tertib antiri dengan adanya konten ini.
“Bagaimana orang luar mau berkunjung ke Kota Palembang, karena berkembangnya stigma negatif masyarakat Kota Palembang. Oleh karena itu Willie Salim harus bertemu dengan kita, untuk meminta maaf secara langsung kepada masyarakat kota palembang,” pungkasnya Suparman (Zul).






