Ampuhnews.com Palembang – Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (DPD HNSI) Sumatera Selatan (Sumsel) gelar dialog nelayan bersama Gubermur Sumsel di Ruang Mahameru Hotel Swarna Dwipa Jalan Tasik Kecamatan Bukit Kecil Kota Palembang, Rabu (6/8/2025).
Usai dialog nelayan bersama Gubernur Sumsrl dilanjutkan kegiatan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) HNSI Sumsel ke-2 yang dikuti seluruh Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Kabupaten Kota se-Sumsel.
Turut hadir Sekjen DPP HNSI, Lydia Aseggaf SE, Ketua DPD HNSI Sumsel, Ir Gunawan MT, Sekretaris DPD HNSI Sumsel, Malariyanto SE, Bendahara DPD HSNI Sumsel, Dipo Alam ST, Perwakilan Ditpolairud Polda Sumsel, Perwakilan Lanal Palembang, Organisasi Masyarakat (Ormas) dan Mahasiswa dari beberapa Perguruan Tinggi yang di Sumsel.
kegiatan yang bertemakan ‘nelayan sebagai motor penggerak swasembada pangan nasional’ secara resmi dibuka oleh Kepala Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumsel, Aries Irwan Wahyu SSTPi MSi, mewakili Gubernur Sumsel.
Kadis Perikanan Dan Kelautan Provinsi Sumsel, sampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Sumsel sangat mendukung atas kegiatan Dialog nelayan bersama Gubernur Sumsel dan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) ke-2 DPD HNSI Sumsel.
“Tentunya kegiatan dialog ini sangat bermanfaat, karena Gubernur Sumsel, mendapatkan masukan-masukan khususnya dari para nelayan yang selama ini sering disebut orang masyarakat yang termaginalkan, padahal dengan angka statistik yang Nilai Tukar Nelayan (NTN) 117 sudah menjadi masyarakat yang sejahtera,” katanya.
Lanjut ia berharap bahwa kepada para nelayan yang ada di Sumsel agar segera melengkapi semua izin-izin kapalnya.
“Dengan lengkapnya semua izin kapal para nelayan, sehingga kita dapat tepat dalam mengambil kebijakan karena kita sudah tahu jumlah masyarakat nelayan di Sumsel dan juga kalau ada bantuan CSR bisa tepat sasaran,” terangnya Aries.
Sementara Sekjen DPP HNSI, Lydia Aseggaf yang didampingi DPD HNSI Sumsel, Ir Gunawan MT, mengapresiasi kegiatan hari ini, karena tergambarkan sebagai bentuk kepedulian besar HNSI Sumsel terhadap nelayan.
“Dalam hal ini, HNSI yang mewadahi para nelayan yang ada di Sumsel, sudah menggelar dialog nelayan bersama Gubernur Sumsel dan Rakerda ke-2” katanya.
Ia ungkapkan bahwa HNSI itu tidak bisa berjalan sendiri dan harus bergandengan tangan dengan Pemerintah, karena Pemerintah mempunyai program dan anggaran.
“Begitupun Pemerintah sangat baik bersinergi dengan HNSI, karena yang tahu langsung dengan persoalan-persoalan masyarakat nelayan bawah adalah HNSI, sehingga dengan adanya dialog seperti ini diharapkan banyak solusi terpecahkan dan program pemerintah bisa tepat sasaran,” ungkapnya Lydia.
Lanjut Lydia beberkan persoalan-persoalan yang dihadapi para nelayan di Sumsel saat seperti terkait dengan perizinan kapal.
“Masyarakat nelayan ini, kadang-kadang kurang paham mengurus perizinan dengan baik, sehingga diperlukan adanya sosialisasi, apalagi Pemerintah mempunyai rencana membuat gerai untuk pengurusan izin. Hal ini bisa disinergikan dengan DPD HNSI Sumsel, karena dibeberapa wilayah lain sudah melakukannya,” bebernya.
Lebih lanjut dia beberkan bahwa dari dialog tadi, para nelayan di Sumsel belum banyak yang melengkapi izin. Hal ini menjadi salah satu permasalahan masyarakat nelayan di Sumsel karena ketidak pahaman dan ketakutan dalam mengurus izin, padahal banyak sekali manfaat yang akan diterima oleh masyarakat nelayan.
“Disinilah pentingnya peran HNSI, agar bisa memberikan masukan dan sosialisasi bersama pihak terkait, sehingga masyarakat nelayan ini terbantu perizinannya, otomatis dalam melaut tidak ada kekhawatiran dan bisa mendapatkan program-program dari pemerintah melaui Dinas Kelautan Dan Perikanan yang ada di Sumsel,” terangnya Lydia.
Terakhir Lydia berpesan agar masyarakat nelayan yang ada di Sumsel, untuk terus tingkatkan, bagaimana kedepan bisa naik kelas.
“Menjadi nelayan itu, hidupnya tidah harus seperti ini terus, oleh karena itu harus lebih terbuka atau mengubah mindset dalam berpikir, walaupun tidak mudah, tapi saya yakin masyarakat nelayan di Sumsel bisa, apalagi ada HNSI dan Pemerintah,” tutupnya Lydia (Zul).






