Ampuhnews.com | Pali – Hari ini 04 September 2025, di tengah gelombang keresahan rakyat di Jakarta yang berujung ricuh, Kabupaten Pali justru tampil dengan “Do’a Bersama Lintas Agama Wujudkan Pali Aman, Damai, dan Harmonis” di Pali. Tokoh Masyarakat, Ormas, dan Mahasiswa dikumpulkan, lalu sama-sama menyerukan kondusifitas.
Sekilas, ini terlihat positif. Tapi kalau kita teliti lebih dalam, deklarasi ini justru menyisakan pertanyaan besar: apakah damai ini benar-benar lahir dari kesadaran rakyat, atau sekadar cara DPRD Pali membungkam potensi suara kritis warganya?
Yang hadir hanyalah sebagian kelompok. Mahasiswa yang selama ini menjadi corong perlawanan rakyat terhadap ketidakadilan justru tidak terlihat. Padahal di tengah kondisi negara yang makin penuh gejolak, suara mahasiswa dan masyarakat sipil sangat krusial untuk mengimbangi kekuasaan.
Damai tidak bisa hanya dimaknai sebagai tidak ada keributan. Damai sejati hadir ketika keadilan ditegakkan, suara rakyat didengar, dan aspirasi tidak dipasung dengan seremoni. Kalau ketidakadilan masih dibiarkan, deklarasi ini hanya kosmetik politik: menutup luka dengan plester, sementara penyakitnya tidak pernah diobati.
Pali butuh ruang dialog, bukan panggung simbolis. Butuh keberanian DPRD membuka pintu bagi semua suara, bukan hanya ormas atau komunitas tertentu. Karena tanpa keadilan, “damai” hanyalah alat untuk membungkam rakyat.
_Penulis : Ulin Puspa (Koordinator FORMAPALI Jabodetabek)_






