Ampuhnews.com | Palembang,- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel) dalam hal ini Wakil Gubernur Sumsel H Cik Ujang menghadiri acara pelantikan Pengurus Wilayah Lembaga Pendidikan Ma’arif (LPM) Nahdhatul Ulama (NU) Provinsi Sumsel Tahun 2025-2030 bertempat di Balai Diklat Keagamaan Kota Palembang.
Turut hadir didalam kegiatan ini yakni Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sumsel Drs H Ari Narsa, J.S, Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Karo Kesra) Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Sumsel Dr Drs H Sunarro, M.Si, Biro Umum dan Perlengkapan Setda Provinsi Sumsel, Team Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) bidang Kesra dan ekonomi, Rois Suriyah PWNU Provinsi Sumsel, Ketua PW NU Sumsel KH Hendra Zainuddin Al-Qodhiri, Ketua PW LPM NU Sumsel Periode 2025-2030 Kiky Subagio, S.H.I, dan undangan lainnya.
Dikatakan Wagub Sumsel H Cik Ujang, S.H, saya mengucapkan selamat kepada PW LPM NU Sumsel yang dilantik pada hari ini, jadikan seremonial ini sebagai langkah untuk memulai mengemban tanggung jawab dalam mengembangkan semangat dan potensi organisasi mencapai tujuan yang telah di programkan.
Saya yakin program pendidikan NU ini pasti sudah ada, tapi saya berpesan kepada yang baru dilantik ini perhatikan pendidikan walaupun itu NU ataupun Muhammadiyah.
“Kalau dahulu saya di Lahat, ada Sekolah Menengah Atas (SMA) yang lain, gedungnya masih, tempatnya strategis, sekarang habis yang sekolah disana,” ujarnya.
Kemudian, sedangkan pesantren-pesantren sampai ke desa-desa, kenapa lah kira-kira kata saya sekolah NU yang dahulu kita selalu hargai banyak alumni-alumni itu tidak dihidupkan tempatnya, memang sekarang ada MAN.
Walaupun dahulu rasanya ada MAN, kenapa lah kata saya, sedangkan sekolah agama atau pesantren-pesantren yang lain bermekaran-bermekaran bertebaran-bertebaran sampai ke pelosok desa dibuat.
“Kenapa yang ditengah kota SMA justru tidak ada lagi, di Lahat yang saya tahu Lahat dahulu, NU itu pas di tengah kota, sekarang di buat kantor NU. Kalau Muhammadiyah pas mau masuk Pasar Bawah ditengah kota pula disana, tapi habis muridnya,” ungkapnya.
Dilanjutkannya, sedangkan di pesantren sampai ke desa-desa ada yang dari Jawa, karena saya waktu di Lahat, mohon maaf habis saya bicarakan ada pesantren, ada muridnya dari Baturaja, berarti jauh kan. Apalah salahnya SMA NU ini tidak ada lagi muridnya.
Jadi sedangkan gedungnya bagus, tempatnya strategis dan waktu saya masih SMA itu masih ada sekolah NU. Dan diingatkan juga LPM NU Sumsel boleh diusulkan dan kita berkomunikasi.
“Lebih digalakkan kita agama, oke, memang itu agama kita, saya setuju, memang agama panduan kita untuk hidup yang tertib, teratur, saling hargai. Cuma satu lagi jangan kita lupakan, pendidikan ini teknologi urusannya,” katanya.
Menurut Ketua PW NU Sumsel KH Hendra Zainuddin Al-Qodhiri, orangnya bagus-bagus muda-muda, maka saya dengan Rois Surya, kemudian ditambah dengan Sekretaris ingin menyerahkan bantuan wakaf dari orang, Insya Allah Bulan Maret, bulan Ramadhan akan diserahkan.
Kalau dia tidak jadi menyerahkan kita buat sendiri, yakni Pesantren, Madrasah, dan Panti Asuhan, 3 in 1 akan kita serahkan kepada Ma’arif untuk dikerjakan supaya ada kenang-kenangan masa kita pernah berbuat.
“Tapi akan kita bentuk badan pengelola untuk supaya ketika kita tidak menjadi pengurus lagi, masih tetap kita kerjakan dan kita menjadi orang yang amanah seperti kata Wagub Sumsel,” ucapnya.
Masih dilanjutkannya, saya terus terang saja kagum dengan Wagub kita ini pertama ada lima ta yang ada di beliau, lima ta, di mana ta pertama yakni kaki tangan. Di mana Wagub Sumsel ini banyak sekali kaki tangannya, termasuk Ketua PW LPM NU Sumsel.
Kaki tangan itu adalah ya staf ahli yang bagus-bagus, yang muda-muda yang berkarya, dan Wagub Sumsel punya itu, dan yang paling banyak punya itu kaki tangan di lahat sana, banyak sekali.
“Kenapa beliau jadi Bupati disana, banyak kaki tangannya, kedua lambaian tangan, jadi kalau ada orang yang penyungkan melambaikan tangan tidak akan pernah jadi pemimpin,” imbuhnya.
Begitu juga disampaikan Ketua PW LPM NU Sumsel Kiky Subagio, S.H.I, pertama kita menginventarisir lembaga pendidikan yang di bawa naungan Ma’arif, pendidikan itulah kita menginventarisir dahulu, tinggal kita rencanakan bidang ke depannya. Apa yang harus kita lakukan terkait masalah lembaga itu, apa itu kemajuannya, daya tarik segala macam lah yang berkaitan fasilitas pendukung lembaga itu.
Kalau persisnya kita belum tahu berapa jumlah, yang pasti Banyuasin, Lahat, Palembang, Muara Enim, cuma kita belum pasti sejauh ini, karena belum menginventalisir itu, baru mau kita mulai. Kita memang seperti perlu kita perbaiki, bagaimana kita mengupayakan lembaga pendidikan mempunyai daya tarik dengan fasilitas pendukung dan tenaga pengajar yang mumpuni.
“Biar wali-wali murid atau masyarakat berkenan sekolah lembaga pendidikan NU. Dimana kalau kita lembaga dibawah PWNU, jadi bagian dari lembaga-lembaga di PWNU,” bebernya.
Masih disampaikannya, lembaga ini sudah ada, jadi namanya lembaga di bawah PWNU, jadi PWNU itu ada beberapa lembaga, pengurus cabang juga punya beberapa lembaga ini sudah ada, badannya sudah ada, tinggal pengurusnya saja, mungkin ada yang masih kosong. Seperti di pusat di PBNU dipusat ini sudah ada juga lembaga Ma’arif yang memang otonomi daerah masing-masing yang sifatnya koordinasi.
Insya Allah lah ketika kita diberi amanat, kita juga butuh dukungan dari seluruh pihak, dalam amanah atau apa yang ditugaskan dan diamanatkan bisa kita jalankan untuk kemaslahatan masyarakat banyak khususnya provinsi Sumsel.
“Dimana di Komisi V ini, kebetulan kami ini salah satu pimpinan Komisi V sebagai sekretaris Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumsel yang juga bermitra dengan Dinas Pendidikan di Provinsi,” jelasnya.






