Ampuhnews.com | PALI, Sumatera Selatan — Di tengah kesulitan ekonomi dan belum dibayarkannya gaji ribuan tenaga honorer di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) selama sebulan terakhir, gaya hidup mewah yang dipertontonkan oleh Bupati PALI justru memicu amarah publik, terutama dari kalangan pemuda.
Salah satu tokoh pemuda Kabupaten PALI, Edo Saputra, menyatakan keprihatinannya secara tegas dan menyebut bahwa situasi ini bukan hanya bentuk ketimpangan sosial, tetapi juga pengkhianatan terhadap nilai-nilai keadilan dan empati terhadap rakyat kecil.
“Banyak dari tenaga honorer kita yang hidup pas-pasan, mengandalkan penuh gaji bulanan untuk bertahan hidup, menyekolahkan anak, dan membeli kebutuhan pokok. Tapi sampai hari ini, satu bulan sudah mereka tidak menerima haknya. Sementara bupatinya justru sibuk tampil dengan mobil Rubicon, Land Cruiser tipe tertinggi, dan rapat mewah di hotel berbintang di Palembang. Ini benar-benar tidak masuk akal!” tegas Edo.
Menurutnya, indikasi minimnya kas daerah yang menyebabkan mandeknya pembayaran gaji honorer justru membuka banyak pertanyaan publik soal transparansi dan integritas tata kelola keuangan di tubuh Pemkab PALI.
“Kalau memang kas daerah seret, kenapa justru pengeluaran-pengeluaran yang tidak menyentuh hajat hidup rakyat terus berlangsung? Apakah lebih penting pencitraan dan kenyamanan elite dibanding perut ratusan honorer yang keroncongan?” katanya dengan nada geram.
Edo menyebut, gaya hidup hedon yang dipertontonkan kepala daerah dalam situasi krisis adalah bentuk kebutaan moral dan kebangkrutan kepemimpinan.
Ia mendesak agar DPRD Kabupaten PALI segera mengambil langkah pengawasan yang serius terhadap anggaran daerah, dan jika perlu, menggandeng aparat penegak hukum untuk menyelidiki aliran anggaran yang tidak menyentuh sektor vital seperti pembayaran gaji tenaga honorer.
“Di saat rakyat sedang berhemat untuk bertahan hidup, bupati malah keliling pakai mobil miliaran dan rapat di hotel mewah? Ini bukan hanya menyakiti hati rakyat, tapi juga menginjak-injak akal sehat kita semua,” tegasnya.
Lebih lanjut, Edo meminta agar kepala daerah PALI segera melakukan klarifikasi terbuka di hadapan publik, bukan hanya soal kondisi kas daerah, tetapi juga transparansi anggaran dan pengeluaran yang selama ini dilakukan pemerintahannya.
“Kalau masih punya nurani, hentikan dulu gaya hidup boros. Turun ke bawah, temui honorer yang menunggu gaji, dan perbaiki kebijakan. Jika tidak mampu, lebih baik mundur secara terhormat daripada jadi pemimpin yang hanya mempermalukan daerahnya sendiri,” pungkasnya.
ini menjadi peringatan keras bahwa ketimpangan antara elit dan rakyat, jika dibiarkan, akan menjadi bara dalam sekam. Pemuda PALI bersiap untuk menggalang solidaritas lebih luas jika kondisi ini terus diabaikan.






