Ampuhnews.com | PALI, – Sumatera Selatan – Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) yang dikenal sebagai daerah baru hasil pemekaran, kini menghadapi tantangan serius di ruang digital. Di tengah keberagaman masyarakat yang terdiri dari suku Lematang, Abab, Penukal, serta pendatang dari luar daerah PALI, maraknya narasi provokatif di media sosial dikhawatirkan dapat merusak kerukunan yang selama ini terjaga.
“Di PALI ini masyarakatnya majemuk, ada yang asli, ada yang transmigran. Kalau provokasi dibiarkan, bisa memicu salah paham antarwarga,” ungkap Arismin, tokoh muda Kab. PALI, Rabu (03/09/25).
Beberapa tahun terakhir, sejumlah kasus hoaks dan provokasi sempat mengguncang masyarakat PALI. Misalnya, saat Pilkada 2024 terkait rilis survey Cabup Cawabup. Informasi itu cepat menyebar melalui grup WhatsApp desa-desa di Kab. PALI. Setelah diverifikasi KPU, isu tersebut dipastikan tidak benar. Namun, sempat menimbulkan ketegangan antarpendukung.
Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) PALI juga turun tangan. Organisasi kepemudaan ini telah menjalin koordinasi dengan Polres PALI untuk mencegah penyebaran isu provokatif, terutama yang menyentuh ranah agama dan toleransi.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Karena itu, Ansor bersama Polres PALI sepakat memperkuat komunikasi. Kalau ada isu yang berbahaya, segera kita klarifikasi sebelum melebar,” kata salah satu pengurus GP Ansor PALI, Edo Saputra.
Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa kontra narasi tidak hanya tugas pemerintah, tetapi juga ormas dan komunitas lokal yang punya kedekatan langsung dengan masyarakat.
Kontra narasi di PALI bukan sekadar strategi komunikasi. Ia sudah menjadi benteng sosial, menjaga agar kerukunan di tanah kelahiran tetap terjaga. Kreativitas anak muda, kearifan lokal, kolaborasi lintas generasi, hingga dukungan organisasi seperti GP Ansor menjadi senjata utama melawan derasnya arus provokasi.
Karena di PALI, orang percaya satu hal: lebih baik menjaga persatuan, daripada membiarkan isu-isu panas memecah belah masyarakat. (Enggi Marlisa)






